Jumat, 13 September 2013

MASALAH HATI YANG JUJUR DAN TERBUKA

Bacaan Alkitab: Lukas 18:9-14
 
“Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihaniah aku orang berdosa ini.” Lukas 18:13

Keadaan hati kita dalah faktor penting dalam hubungan dengan Tuhan karena yang dinilai Tuhan bukanlah paras, perawakan atau pun kepandaian, melainkan isi hati kita. “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.” (1 Samuel 16:7b), sebab “Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu.” (Amsal 27:19)

Untuk menggambarkan keadaan hati manusia, Tuhan Yesus memberikan perumpamaan: “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai." (Lukas 18:10). Orang Farisi adalah tokoh agama yang tau banyak tentang isi Alkitab. Tapi sayang hatinya penuh kesombongan dan kemunafikan, merasa bersih dari dosa, tanpa cacat cela seperti tertulis: “Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepadaMu, karena aku tidak sama seperti orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.” (Lukas 18:11-12). Otomatis orang Farisi merasa tidak lagi memerlukan belas kasih dan anugerah Tuhan; orang sehat tentunya tidak memerlukan dokter/tabib. Sebaliknya, “...pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.” (Lukas 18:13).

Kejujuran dan keterbukaan hati si pemungut cukai telah membuka pintu rahmat Tuhan. Permohonan belas kasih yang dipahat dari jeritan hati yang remuk selalu menyentuh hati Tuhan. Tuhan berkata, “Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain (Farisi) itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Lukas 18:14).

“Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.” Mazmur 51:19

Rabu, 11 September 2013

IRI HATI SORANG SAUDARA

Bacaan Alkitab Lukas 15:11-32

"Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu itu untuk dia."  Lukas 15:30

Dalam kitab Perjanjian Baru kita jumpai perasaan iri hati antara dua bersaudara:  anak sulung iri kepada adiknya yang baru pulang dari pengembaraannya setelah menghabiskan uangnya untuk berfoya-foya.  Setelah anak terhilang itu menyesal atas perbuatan dosanya, ia kembali ke rumah bapanya.  Tentu saja bapa bersukacita karena mendapatkan anaknya yang terhilang kembali ke rumahnya sehingga bapa membuat suatu pesta dan menyembelih anak lembu tambun.  Hal ini menimbulkan kemarahan dan iri hati dalam hati si anak sulung.

Sebagaimana Bapa Sorgawi bersukacita atas pertobatan seorang berdosa, maka seharusnya kita juga bersukacita bila ada saudara kita yang terjatuh kembali bertobat.  Jangan kita memusuhi atau mengungkit kembali dosa lamanya karena dia sudah bertobat, apalagi menghakimi, itu bukan wewenang kita.  Maksud anak sulung itu mungkin agar bapanya memberi hajaran kepada adinya, dengan demikian adiknya dapat merasakan derita akibat perbuatannya yang salah itu.  Dalam hal ini Tuhan Yesus berkata, "Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan."  (Lukas 15:7).  Perkataan Tuhan Yesus ini sungguh mengena sasaran, karena bukankah di masa kita banyak orang yang merasa dirinya benar sehingga tidak perlu bertobat dan tak lagi memerlukan Tuhan Yesus?  Bila melihat ada saudara seiman yang terjatuh ke dalam dosa, lalu bertobat dan kembali duduk di gereja, seringkali kita malah bergosip dan menjadi panas hati, lalu berkata."Mengapa Tuhan tidak memberikan hukuman atau hajaran ke dia ya?"

Itu adalah sikap yang tidak benar!  Dari pada kita menghakimi mereka, lebih baik kita bersikap seperti Yesus.  Dengan kasihNya Ia menerima orang berdosa yang telah bertobat kembali.  Tuhan Yesus berkata,  "...barangsiapa yang datang kepadaKu, ia tidak akan Kubuang."  (Yohanes 6:37).

Jika Tuhan Yesus saja tanganNya terbuka, menerima serta mengasihi orang berdosa yang telah bertobat, mengapa kita justru menolak dan memandang sinis keberadaan mereka?  Bukankah kita dulu juga orang yang penuh dosa?